Mengapa Sora AI Menimbulkan Kontroversi?


Sora AI, alat generatif video berbasis teks dari OpenAI, diluncurkan dengan janji besar: menjadikan pembuatan video cepat, kreatif, dan berbiaya rendah. Namun sejak peluncurannya, Sora tidak hanya menuai pujian, tetapi juga reaksi keras dan kritik yang luas — dari isu etika, hak cipta, hingga dampaknya bagi pembuat konten profesional.

1. Kekhawatiran terhadap Deepfake dan Misuse (Penyalahgunaan)

Sora dapat menghasilkan video yang tampak sangat realistis hanya berdasarkan teks sederhana. Masalahnya: kemampuan ini juga memudahkan pembuatan deepfake atau konten manipulatif, termasuk video yang menggambarkan orang nyata melakukan hal yang tidak pernah terjadi.

Kelompok advokasi seperti Public Citizen bahkan menuntut OpenAI menarik Sora karena dianggap berpotensi merusak kepercayaan terhadap media visual dan mengancam pribadi menyangkut konten deepfake atau tanpa persetujuan. 


2. Risiko terhadap Hak Kreator & Industri Hiburan

Sora menggunakan model pembelajaran yang dilatih pada sejumlah besar data video. Tetapi ketidakjelasan tentang sumber data tersebut menciptakan kekhawatiran serius mengenai hak cipta dan pembayaran bagi pembuat konten asli.

Agen bakat besar seperti Creative Artists Agency (CAA) menyatakan bahwa Sora berpotensi mengikis hak dan pembayaran yang semestinya diterima para pencipta konten, termasuk aktor, penulis, dan seniman ─ terutama jika karya mereka terpakai tanpa komisi atau kredit yang adil. 

Kelompok media besar tertentu bahkan menolak berpartisipasi dalam program monetisasi model ini, memperlihatkan penolakan yang meluas dari ekosistem film dan hiburan tradisional terhadap prinsip AI video generatif yang tidak terikat kompensasi kepada pencipta.

3. Bias Sosial dan Stereotip dalam Output AI

Investigasi oleh WIRED menunjukkan bahwa Sora, seperti banyak AI generatif lainnya, mewarisi dan memperkuat bias sosial dari data latihnya.

Sebagai contoh:

AI cenderung menampilkan tugas profesional seperti pilot atau CEO sebagai figur laki-laki,

sementara peran pelayanan dituai ke figur perempuan.

Model tersebut juga tidak menggambarkan keragaman tubuh atau kemampuan fisik secara realistis.

Hubungan dan atribut etnis sering diproduksi secara stereotipikal. 

Hal ini bukan hanya soal estetika — bias seperti ini dapat memperkuat stereotip sosial yang sudah ada dan berdampak negatif jika dipakai dalam media luas.

4. Hak Cipta & Transparansi Data Pelatihan

Sora juga menjadi pusat perdebatan tentang pelatihan AI dan legalitasnya. Banyak kritik menyatakan bahwa OpenAI belum sepenuhnya transparan mengenai data apa saja yang dipakai sebagai sumber pelatihan, termasuk apakah karya berhak cipta digunakan tanpa izin eksplisit dari penciptanya. 

Isu pelatihan semacam ini bukan hanya abstrak — beberapa kasus hukum di berbagai negara sedang mempertimbangkan apakah melatih AI pada materi berhak cipta tanpa kompensasi atau persetujuan melanggar hukum hak cipta.

5. Restriksi, Kebijakan Moderasi, dan Pengalaman Pengguna

Kontroversi lain muncul dari kebijakan moderasi konten internal Sora. Banyak pengguna melaporkan bahwa sistem moderasi terlalu agresif, memblokir konten yang tampaknya tidak bermasalah, dan membuat pengalaman pengguna terasa terbatas bahkan tidak konsisten. 

Beberapa pengguna juga melaporkan frustrasi terhadap dukungan pelanggan, serta perubahan kebijakan yang terjadi tanpa pemberitahuan memadai. Hal ini menciptakan persepsi bahwa Sora masih belum matang secara pengalaman penggunaan (UX) meskipun harganya relatif tinggi.

6. Dampak pada Industri Kreatif: Ancaman atau Peluang?

Respon terhadap Sora mencerminkan perdebatan mendalam:

Apakah alat semacam ini akan merusak pekerjaan kreatif atau justru membuka cara baru berkarya?

Pihak pendukung, termasuk investor awal, berpendapat bahwa kritik serupa pernah muncul terhadap inovasi media lain — dari musik digital hingga fotografi digital — sebelum akhirnya teknologi itu diterima luas. 

Namun, bagi banyak profesional industri, kekhawatirannya nyata antara lain:

  1. Bagaimana AI ini memengaruhi ekonomi kreator?
  2. Bagaimana kita melindungi identitas, suara, dan karya asli?
  3. Siapa yang bertanggung jawab atas konten yang dihasilkan AI?

Komentar